kanisius
high ropes5

High Ropes. Secara umum dikenal dengan flying fox-nya saja, padahal aktivitas high ropes bukan hanya itu, tapi ada burma bridge, elvis walk, two lines bridge, cargo net bridge, zigzag, cat walk, wood bridge, dan pipe bridge. Dengan ketinggian sekitar 25 meter dari permukaan tanah, fasilitas high ropes di Tanakita dipasang di pohon damar dan di operasikan secara profesional oleh 6 orang setiap hari. Aktivitas high ropes ini cocok untuk semua umur dari 5 tahun ke atas untuk mengasah kepercayaan diri dan keseimbangan badan selama setengah jam.

river tubing

River Tubing. Ingin merasakan berada di atas arus air yang dingin dan jernih, di sela-sela batu selama 45 menit, sejauh 1,2 km di atas ban dalam mobil truk yang empuk dan pas dengan posisi setengah baring? Tanakita menawarkan aktivitas river tubing di sungai Cigunung, sekitar 700 meter dari area Tanakita. Sebelum mencapai ujung rute river tubing, ada stop over untuk menghangatkan badan dengan teh hangat dan pisang goreng.

air terjun

Trekking ke Air Terjun. Trekking menuju Air Terjun (Curug) Sawer menjadi kenikmatan tersendiri. Jarak yang ditempuh sejauh 2 km atau sekitar 45 menit berjalan kaki. Diperlukan perlengkapan trekking berupa pakaian yang aman dan nyaman untuk melakukan pergerakan dan mengenakan alas kaki yang aman serta nyaman. Karena akan melewati lintasan berupa tanah merah, beberapa bagian terdapat tanah liat dan jalan berbatu. Belum lagi akan melalui lintasan yang naik turun. Sudah pasti akan menguji kesabaran dalam melakukan trekking. Selama perjalanan, akan ditemani dengan pemandu yang mampu bercerita tentang keadaan hutan hujan tropis.

CVR_malam

Trekking Malam. Trekking malam di sekitar wilayah Tanakita dilakukan dengan berbekal perlengkapan trekking berupa alas kaki yang aman serta nyaman untuk melakukan jalan kaki, bercelana panjang dan senter. Tak lupa akan ditemani dengan pemandu yang mengenali area yang akan dilalui. Petualangan seru ini untuk menyaksikan karakteristik hutan hujan tropis di waktu malam. Pengamatan dimulai dari merasakan suasana malam di tengah hutan hujan tropis lereng Gunung Gede Pangrango, mulai dari suara binatang malam, suara dedaunan ditiup angin, dinginya udara, gelap, sunyi dan tenangnya hutan. Diperjalanan berkemungkinan akan bertemu dengan binatang hutan yang aktif di di tepian hutan di waktu malam, mulai dari serangga, katak, burung hantu dan masih banyak lainnya. Pada area tertentu akan menemui tumbuhan hutan hujan tropis diwaktu malam yang dapat bercahaya.

Kano di Danau

Mengayuh Kano di Danau. Menikmati keindahan danau Situgunung  dan alam sekitarnya dapat dilakukan dengan mengayuh kano. Dengan dibekali dayung, pelampung dan kano menjamin keamanan mengayuh di danau yang memiliki kedalaman mulai dari 0,44 meter sampai dengan 3 meter ini. Mengarungi 10 hektar luas danau menjadi olah raga air yang menyenangkan. Gerakan kedua tangan mengayuh dayung yang diikuti gerakan badan mengimbangi gerakan tangan menjadi cara menyegarkan badan. Sementara itu, keindahan latar depan danau terdapat hutan tanaman damar dan latar belakang danau terdapat hutan alam pegunungan dan tampak di kejauhan Gunung Masigit dan Gunung Pangrango.

Rappelling

Rappelling di sisi air terjun. Rappelling merupakan salah satu tehnik dalam kegiatan alam terbuka untuk menuruni jurang yang curam. Dan diperlukan bantuan peralatan berupa tali, descender, carabiner, harness dan perlengkapan berupa helm. Ada beberapa curug di sekitar Tanakita danyang sering digunakan untuk rappelling adalah Curug Cimenararacun dengan ketinggian kurang lebih 17 meter. Adrenalin terpacu pada saat dibibir curug. Sensasi bergantungan di tali dengan sesekali terkena dinginnya air curug membuat kita makin percaya kepada kemampuan diri sendiri dan alat.

pengamatan satwa

Pengamatan Satwa Gunung. Tanakita yang bersebelahan langsung dengan Taman Nasional Gde Pangrango di wilayah Resor Sukabumi membawa berkah tersendiri. Ketinggian 1100 mdpl dan di wilayah hutan hujan tropis membuat pengamatan wisata khas ekosistem ini menjadi pengalaman menarik tak terlupakan. Dipandu dengan pemandu lokal dan berbekal teropong, alat tulis, jas hujan, sepatu trekking, kamera, dan diusahakan pakaian berwarna tidak mencolok dan terutama kepekaan panca indera untuk ‘berburu’ satwa khas Gde Pangrango seperti Elang Jawa, burung-burung kicau hutan, burung hantu, makaka, lutung, Owa Jawa, kadal, bunglon,
kadal, kelompok serangga dan masih banyak yang lain. Belum lagi rimbunnya hutan hujan tropis kawasan Gde Pangrango yang masih terjaga. Pengamatan satwa mampu menjadi pengalaman tersendiri yang tak terlupakan.

api unggun

Malam Api Unggun. Api menjadi elemen penting dalam bertahan hidup di alam terbuka.
Selain memberi penerangan, memasak dan keamanan, api juga mampu membawa kehangatan para penjelajah rimba. Di Tanakita, Api Unggun menjadi pusat interaksi para peserta camping. Di Api unggun inilah menjadi pusat kegiatan peserta camping di waktu
malam. Duduk melingkar di sekitar api unggun demi menghangatkan badan dengan bebas bernyanyi bersama dan diiringi musik akustik. Tak lupa bebakaran jagung, singkong, rerebusan pisang, kacang dan berbagai jenis camilan lainnya akan  bersanding wedang jahe, teh dan kopi. Dan yang paling penting, saling bercengkerama satu sama lainnya. Di Tanakita, Api Unggun tidak sekedar penghangat badan, tapi juga penghangat batin.