CATATAN

“Kurang jauh apalagi tempat ini?” cetus kata seorang teman  kepada seorang teman lainnya yang baru datang dari Makassar setelah menempuh perjalanan selama delapan jam. Dia mengakui waktu dan jarak yang sangat lama untuk sampai ke Tanakita. “Meskipun jauh, orang-orang pun tetap datang. Ini bukan masalah jarak,” ia melanjutkan. Penghalang berupa kemacetan dan ataupun jalan yang terjal untuk sampai di salah satu kaki Gunung Gede Pangrango Sukabumi itu akan terlupakan jika sudah menapak kaki di kompleks Tanakita. Sebuah bukit yang disulap oleh beberapa orang dari kalangan pecinta alam menjadi camping ground. Karena memang begitu fasilitas yang disajikan, ada kenikmatan tersendiri melihat lobi besar yang menyatu dengan alam. Lobi itu memuat berbagai macam kegiatan, seperti aktivitas makan pagi, siang, dan malam; menyeduh kopi, teh, atau bandrek; serta arena obrolan seru dari beberapa orang yang menginisiasi kompleks perkemahan ini. Umur mereka sudah termasuk senior kalau berbicara mengenai pendakian gunung dan penjelajahan alam terbuka.

Saat mulai menuruni lembah Tanakita untuk mencapai lokasi tenda, saya mendapat jamuan dari langit yang sebentar lagi jingga, angin menancap tajam mengelilingi leher, dan matahari yang harus bertugas ke belahan bumi lain; senyum terakhir diberikannya melalui sela-sela pegunungan dan lautan. Ada keterkejutan yang saya rasakan, tidak menduga kalau beberapa teman dari Watampone, Makassar dan Bontang. Mereka datang untuk mengikuti program ekperimental yang digagas oleh Mirwan Andan dan Setyo Ramadi, bernama: Nongkrong Rakata. Ada beberapa yang sudah saya kenali dan ada yang belum. Keseruan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Meskipun Tanakita menyediakan tenda nyaman beralas kasur hangat, tapi teman-teman dari Makassar membawa tenda sendiri dan memasangnya di sebuah area lapang yang dijuluki Taman Teletubbies oleh Isep Kurnia, menejer lapangan Tanakita, di bagian kanan Tanakita yang mengarah ke Rumah Merah. Di Taman Teletubbies inilah tempat yang sangat ideal menyaksikan matahari terbenam.

Baru beberapa jam duduk santai di atas rumput hijau di depan tenda, setelah di telepon Andan, Meng dari Float beserta rombongannya yang sudah menginap dua malam di Tanakita (Linda istri Meng, beserta Jacob dan keluarga termasuk Aubrey kecil yang super lucu) datang membawa dua gitar untuk menjemput senja. Meng bersama Jacob – manajer Float memainkan tembang-tembang lawas terkenal dari The Beatles atau Bob Marley dengan aransemen mereka sendiri. Yang menyimak Float sudah pasti tahu seperti apa warna vokal Meng. Dia punya kekhasan sehingga suaranya mudah dikenali. Disela-sela jeda lagu, ada teriakan kecil dari beberapa orang yang bergabung dalam kerumunan kecil ini – hanya berjumlah kurang dari 20 orang – agar Meng dan Jacob memainkan juga lagu-lagu Float. Terlantunlah nomor-nomor seperti “Waltz Musim Pelangi”, “Sementara”, “Indah Hari Itu”, “Stupid Ritmo” dan “Surrender”, dan tentunya “Tiap Senja”.

Saya menangkap ada interaksi yang baik antara Meng, Jacob beserta kerumunan kecil yang menikmati pertunjukan musik singkat mereka, tidak dipersiapkan namun sangat seru. Spontanitas menjadi arus utama waktu itu. Meng dan Jacob tidak sungkan untuk membawakan lagu-lagu Float secara santai. Mereka bahkan mungkin menganggap tidak ada penonton, melainkan teman-teman yang berkumpul dan nongkrong di waktu sore hari sembari menunggu senja melintas ditemani lagu-lagu santai.

Andan juga memperkenalkan kami satu-per-satu kepada orang yang berada dibalik Rakata, Tanakita. Saya membaca niatnya mempertemukan orang-orang sebagai ajang berbagi mengenai cerita bermulanya Tanakita hingga bisa jadi daya tarik besar untuk dikunjungi oleh orang dari segala penjuru dunia. Saya juga merasa, semangat Andan untuk memompa teman-teman dari Makassar agar bisa membuat tempat seperti Tanakita di pulau Sulawesi. Dari sekian banyak perkenalan yang memuat obrolan serius tapi santai, nama paling melekat selama berada di sana adalah Setyo Ramadi – tidak lain adalah direktur Rakata Alam Terbuka, inisiator Tanakita. Bukan berarti perkenalan dengan lainnya tidak atau kurang menarik, ini tidak lebih dari karena seringnya saya ngobrol santai dengan beliau. Mendengar atau membaca kata direktur, saya membayangkan sosok yang berpakaian formal, secara fisik menarik, dan setiap kata yang diucapkan selalu terarah. Dua terakhir yang disebutkan lekat dengan Setyo.

Cara bertutur Setyo pelan tapi tegas, itu kesan pertama yang saya dapatkan saat mulai mengobrol dengannya. Dengan lugas dia menceritakan pengalamannya berkutat sebagai pecinta alam di Mapala Universitas Indonesia sejak 1984. Membagi kedekatannya dengan Norman Edwin – yang selama ini saya tahu hanya dari buku sebagai sosok pendaki terkenal yang wafat dalam pendakian Gunung Aconcagua, Argentina. Tapi Setyo juga bukanlah sosok yang pencerita yang berceramah satu arah. Dia sering melemparkan pertanyaan kepada kami tentang kondisi geografis di Sulawesi Selatan. Ia juga menanyakan hal-hal yang masih berhubungan dengan aktivitas di alam terbuka. Hal itu juga yang memancing Setyo untuk bertutur jauh lebih dalam untuk mengingat kembali apa yang sudah dialaminya sebagai pendaki gunung, pemanjat tebing, pengarung jeram, pegiat outbound training sampai ia memulai Rakata Alam Terbuka.

Obrolan seru juga terjadi dengan teman-teman dari Makassar. Mereka datang dari beragam latar belakang kegiatan. Ada yang aktif sebagai pembuat film (Aditya Ahmad), penggarap event (Roy Ruimerr), relawan museum La Pawawoi di Bone (Patmasanti), pemain musik dan fotografer (Reza NM), anggota SAR (Arif) sampai yang aktif di perpustakaan alternatif sekaligus penyelam (Barak Malinggi). Yang terakhir saya sebutkan malah terinsipirasi oleh Tanakita dan sangat optimis membuat sesuatu yang menyerupai Tanakita di kampung halamannya, Tana Toraja. Dengan mereka semua saya mencoba untuk mencari tahu kembali seperti apa kegiatan di kota Makassar sekarang pada khususnya dan di Sulawesi Selatan, pada umumnya.

Kunjungan ke Tanakita kemarin merupakan kali kedua bagi saya, sekaligus menyemarakkan pergantian tahun baru. Tawaran yang diberikan kepada saya untuk gabung di program ekperimental ini langsung saya iyakan tanpa ba-bi-bu. Lumrah, karena kunjungan pertama meninggalkan kesan menarik seperti warna hijau yang terhampar di sekitar Tanakita. Rasanya percuma kalau harus menuliskan awal mula perjalanan saya dari Bandung yang memakan waktu hampir lima jam dari biasanya – seharusnya hanya tiga jam. Dari 28 Desember 2013 hingga 3 Januari 2014 saya mengakrabi Tana Kita dan tulisan ini tidak lebih dari sekedar catatan harian yang saya rangkum.

Saya tahu masih banyak hal yang tertinggal atau terlupa untuk dituliskan. Bukan berarti saya mengganggap hal itu tidak penting, tapi lebih karena saya belum mampu menuangkan ke bentuk tulisan kecuali perasaan senang yang menghinggapi. Misalnya, perasaan senang berjalan kaki sekitar empat kilometer menuju sebuah air terjun dengan medan berbatu dan naik turun – secara cuek saya mengenakan sandal hotel, dan saya diledeki sepanjang jalan, terutama oleh Reza NM. Sebab dengan hal itu akhirnya saya biasa mengeluarkan keringat secara efektif – selama ini jarang berolahraga. Tidak hanya sekedar berekreasi, ada pengalaman obrolan yang bisa saya bawa sebagai bentuk pengetahuan baru. Terimakasih untuk Mirwan Andan yang mengajak saya, teman-teman dari Watampone, Makassar, Bontang dan tentunya kepada Rakata Alam Terbuka dan Tanakita. Sampai jumpa lagi!

Jakarta, 2013

Rahmat Arham, anak nongkrong.